Susi Pudjiastuti: Kelangkaan Ikan Sidat Akibat Perburuan Plasma Nutfah

SariAgri - Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti mengatakan bahwa keberadaan ikan sidat saat ini habitatnya sudah jarang ditemui di sungai dan muara.
Kondisi ini terjadi menyebutkan bahwa ikan sidat sudah masuk ke dalam satwa appendix-2 yang artinya adalah golongan hewan langka dan dilindungi.
Susi menyebutkan bahwa penyebab kelangkaan ikan sidat terjadi karena adanya aktivitas penangkapan larva sidat atau glass eel di habitat aslinya.
Dalam cuitan di akun Twitter-nya, Susi mengungkapkan bahwa sidat ataupun belut dan spiny rock lobster merupakan plasma nutfah. Menurutnya, teknologi yang dimiliki Indonesia belum bisa melakukan pembibitan terhadap ikan sidat tersebut.
“Sidat atau eel dan spiny rock lobster adalah plasma nutfah. Kita atau teknologi belum bisa merekayasa mating breeding mereka,” katanya.
Kementerian Kelautan Dan Perikanan
Lebih lanjut Susi mengatakan bahwa ikan sidat harus dilindungi, dan apabila ingin dipergunakan, lanjut dia, masyarakat dapat mengambilnya pada ukuran yang siap untuk dikonsumsi.
Dia menambahkan, ikan sidat dan spiny rock lobster hanya dimiliki oleh beberapa negara di dunia salah satunya Indonesia
“Semestinya harus dilindungi, dan yang kita ambil yang konsumsi saja. Sidat dan spiny rock lobster hanya beberapa negara saja yang punya, very specific endemic,” pungkasnya.
Kementerian Kelautan Dan Perikanan
Sebelumnya, Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono, mendorong budi daya perikanan diantaranya tuna, sidat, dan abalone. Untuk itu dia menggandeng Jepang untuk bekerja sama dalam hal teknologi pengembangan budidaya di Indonesia.
"Jepang-Indonesia punya kesamaan sebagai negara bahari. Indonesia memiliki potensi perikanan yang besar, sedangkan Jepang punya keunggulan dari sisi teknologi yang bisa kita kerjasamakan," ujar Trenggono.
Kerja sama teknologi untuk penguatan budi daya tuna, sidat maupun abalone ini, disinyalir dalam rangka menjaga komoditas tersebut dari kepunahan. Sebab populasi di alam menjadi terjaga, sedangkan aktivitas usaha berbasis tiga komoditas itu dapat berjalan berkesinambungan.