Impor Ikan Hanya Untuk Industri Makanan Olahan

SariAgri - Pandemi Covid-19 mempengaruhi seluruh sendi perekonomian dalam negeri, salah satunya daya beli masyarakat terhadap barang-barang konsumsi. Namun tidak untuk makanan laut, peminatnya justru naik sampai 5 persen selama Pandemi. Hal ini disampaikan Wakil ketua umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia, Yugi Prayanto, dalam wawancaranya di program Rizky’s Corner.
Ditanyai soal kontroversi impor ikan yang menurut data BPS sejak 2009 sampai 2019 naik dari 6 ke 13 persen, Yugi mengatakan impor tersebut tidak di semua jenis ikan dan tidak beredar di pasar tradisional.
“Hanya untuk kebutuhan industri makanan olahan skala besar yang memang pasokan ikannya tidak ada di Indonesia, misal ikan Salem. Kalau tidak impor maka produksi berkurang, pengusahanya bangkrut dan akan berdampak ke hal lainnya,” ujarnya.
Sementara saat membahas perubahan kebijakan antar Menteri yang menjabat di Kementerian Kelautan & Perikanan tentang ijin ekspor benur Lobster, Yugi menilai bahwa regulasi yang dibuat sudah baik namun praktik di lapangannya yang harus diperbaiki dan diawasi. Praktik penerapan aturan di lapangan inilah yang dianggap sering tidak konsisten dan merugikan pengusaha budidaya lobster yang sudah lama menggeluti bisnis ini.
Perikanan Indonesia
“Ya jangan sampai harga lobster hasil tangkap lebih murah dari harga lobster budidaya, kalau ini terjadi pasti pengusahanya merugi sebab mereka kan sudah habis biaya untuk pembangunan infrastruktur keramba, pakan dari kecil sampai besar, menggaji karyawan. Kalau lobster hasil tangkap kan mereka (nelayan) tidak keluar modal besar, dapat langsung jual,” tambahnya.
Berita Perikanan
Dari data KADIN, Nusa Tenggara Barat dan Aceh adalah provinsi penghasil lobster terbanyak di Indonesia. Untuk itu pemerintah dirasa perlu memaksimalkan potensi budidaya lobster di ke dua provinsi ini, bahkan pihak perbankan diminta mengucurkan bantuan modal karena potensi untungnya besar.