Siswa SMK Diajari Bangun Alat Ukur Kadar Hidrogen Sulfida di Tambak

SariAgri - Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber daya perairan, sehingga banyak dikembangkan budi daya ikan atau udang pada tambak. Tetapi, banyak sekali permasalahan di tambak yang sulit dipecahkan para petani.
Salah satunya yakni cara membangun alat ukur kadar H2S (Hidrogen Sulfida) sebagai upaya mencegah ikan atau udang keracunan akibat kadar H2S pada air tambak terlalu tinggi.
“Para petani tambak kesulitan mendeteksi kadar H2S di tambak dikarenakan sensor H2S cair tergolong jarang di Indonesia. Selain itu, harga sensor H2S juga menjadi bahan pertimbangan,“ ungkap ketua tim, Franky Chandra Satria Arisgraha, kepada Sariagri, Senin (5/4).
Oleh karena itu, Franky bersama tim mengadakan kegiatan pengabdian masyarakat pelatihan rancang bangun alat ukur kadar H2S pada tambak sistem tertutup untuk membantu petani tambak.
“Melalui pelatihan rancang bangun alat ukur kadar H2S kepada siswa-siswi SMK Perikanan dan Kelautan di Kecamatan Puger, Kabupaten Jember diharapkan dapat membantu petani tambak dalam mencegah kematian ikan atau udang karena kadar H2S pada air tambak terlalu tinggi,” tutur dia.
Menurut Franky, sasaran ditujukan kepada para siswa lulusan SMK. Dengan begitu diharapkan dapat berdaya saing tinggi sehingga mudah dalam mencari atau menciptakan lapangan pekerjaan.
Oleh karena itu, melalui kegiatan ini para siswa SMK diharapkan dapat meningkatkan mutu lulusan SMK dan ke depan diharapkan dapat membantu para petani tambak dalam membangun alat pendeteksi kadar H2S.
“Rencana awal dilaksanakan secara tatap muka secara langsung di SMK Perikanan dan Kelautan, Kecamatan Puger, Kabupaten Jember. Namun berhubung kondisi pandemi Covid-19 maka kegiatan dilaksanakan secara daring dimana peserta mengikuti kegiatan di laboratorium komputer SMK Perikanan dan Kelautan, Kecamatan Puger, Kabupaten Jember,” ucap dia.
Perikanan
Daerah Jember dipilih dikarenakan sejak tahun 2015, wirausaha di bidang budidaya air tawar telah dikembangkan, terutama di Kecamatan Puger yang telah membudidayakan udang vaname dengan potensi pasar hingga ke Eropa, Amerika, dan Asia.
“Modal yang dibutuhkan tidak sedikit, sehingga dukungan bidang pendidikan diharapkan dapat membantu petani tambak. Sebagai contoh dengan menciptakan teknologi alat ukur kadar H2S untuk memantau kualitas air, sehingga diharapkan dapat mencegah kematian ikan atau udang akibat kualitas air yang buruk,” ungkap dia.
Apalagi dengan hadirnya SMK Perikanan dan Kelautan, lanjutnya, diharapkan dapat membantu menyelesaikan masalah petani tambak dan meningkatkan hasil budidaya ikan dan udang.
“Dengan diadakannya kegiatan tersebut, diharapkan dapat membekali peserta pelatihan agar dapat membantu para petani tambak dalam mengatasi permasalahan keracunan ikan atau udang karena kadar H2S pada air tambak terlalu tinggi. Serta, pelatihan menjadi bekal bagi siswa SMK setelah lulus studi kelak,“ pungkasnya.