DKP Jawa Barat Fasilitasi 60 Petani Milenial Pembudidaya Ikan

SariAgri - Sebanyak 60 orang lolos dalam Program Petani Milenial peminatan budi daya ikan. Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Jawa Barat pun bersiap mengawali program Petani Milenial ini dengan memfasilitasi paraptani milenial khususnya peminatan di bidang kelautan dan perikanan.
Mereka yang lolos akan mendapatkan sejumlah peluang usaha yang difasilitasi Pemprov Jawa Barat mulai dari penyediaan lahan, bantuan modal dari BJB, serta kepastian pemasaran dari offtaker yang siap membeli hasil panen petani milenial.
Kepala DKP Provinsi Jawa Barat Hermansyah mengatakan, 60 petani ikan milenial tersebut berasal dari ratusan pendaftar budi daya ikan milenial dengan berbagai latar belakang pendidikan dan pengalaman dalam budi daya ikan.
"Kami menyaring mereka mulai dari minat, pendidikan dan juga pengalaman mereka dalam bidang budidaya ikan. Selain itu juga mereka harus menjalani pengecekan dari BI checking. Soalnya ada kaitannya dengan peminjaman modal dari BJB jangan sampai menambah risiko beban finansial calon petani milenial yang bersangkutan," kata Hermansyah.
Hermansyah menjelaskan, dari 60 petani milenial yang terpilih terdiri dari dua kelompok. Pertama, mereka yang mandiri atau yang sudah memiliki lahan sendiri sebanyak 24 orang. Yang kedua, kelompok intensif yang tidak memiliki lahan sebanyak 36 orang.
"Dari 60 petani budi daya ikan tersebut masing-masing berbeda komoditas budidayanya yaitu lele, nila dan udang sesuai dengan permintaan offtaker," ujarnya.
Hermansyah menambahkan, untuk kelompok petani intensif, DKP telah menyiapkan lahan di empat lokasi yang dekat dengan kantor cabang DKP di kabupaten/kota. Untuk nila ditempatkan di Ciherang (Cianjur) dan Wanayasa (Purwakarta). Sementara lele di Cijengkol (Subang), serta udang di Cibalong (Garut).
"Mereka ditempatkan di lahan milik kami yang tidak terpakai. Mereka akan diberikan masing-masing empat sampai enam bioflok (kolam yang menggunakan terpal) dengan diameter 4 meter. Untuk petani udang, perlakuannya berbeda dengan petani nila dan lele. Mereka tidak diberikan fasilitas kolam bioflok, melainkan lahan tambak udang di Cibalong," jelasnya.
Herman menambahkan, para petani milenial tersebut akan dibina dan diberikan kesempatan mengembangkan usahanya dengan durasi satu tahun dan diharapkan mereka bisa berkembang dan mandiri usai menjalani program tersebut.
"Kalau berhasil, mereka pasti memiliki keinginan untuk mengembangkan usaha mereka di tempat lain, tidak terus-terusan di sini. Kalau terus di sini berarti mereka tidak berkembang," imbuhnya.
Herman menuturkan, untuk petani mandiri tambahan aset yang mereka peroleh dari pinjaman BJB akan menjadi hak milik mereka, sedangkan untuk petani intensif aset yang mereka bangun akan dikembalikan pada DKP selalu pihak yang meminjamkan lahan.
"Kami berharap mereka berhasil karena dalam satu tahun mereka dapat menghasilkan hingga empat kali siklus atau panen seperti lele dalam dua sampai tiga bulan bisa dipanen, nila dan udang tiga kali siklus panen atau tiga siklus," ujarnya.
Perikanan
Program Petani Milenial Juara diharapkan bisa menahan laju urbanisasi. Dengan prinsip tinggal di desa, rezeki kota, bisnis mendunia, diharapkan bisa memberikan kesempatan kerja pada anak muda korban PHK di masa pandemi. Selain itu memberi tantangan bagi mereka yang baru lulus dari perguruan tinggi untuk turut berkontribusi memajukan perekonomian desa.
Peserta Petani Milenial diharapkan melanjutkan proses regenerasi petani sekaligus mengubah wajah pertanian Jawa Barat menjadi yang lebih modern, mandiri, produktif, dan berkelanjutan. Selain perikanan, program ini juga mencakup bidang peternakan, perikanan, dan perkebunan.